TRADISI KENDURI

Tradisi kenduri atau kadang juga disebut selamatan, kenduren dan kondangan telah ada sejak dahulu. Tradisi ini dapat diartikan kegiatan eramuan makan untuk memperingati pristiwa, meminta berkah dan sebagainya. Pelaksanaanya dilakukan oleh laki-laki dengan tujuan meminta kelacaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari yang mengundang orang-orang disekitar rumahnya dengan dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut.

Pada jamuan makanan pada umumnya terdapat nasi tumpeng dan berbagai makanan disana kemudian di taruh diwadah kemudian dibawa pulang. Tetapi sebelumnya ada juga yang menyelenggarakan makan bersama tetapi bukan dengan nasi yang nanti dibawa pulang. Dan biasanya makanan yang tidak boleh ketinggalan atau selalu ada saat kenduri misalnya jenang merah, jenang putih, ayam ingkung, nasi golo, nasi asahan dll. Yang memiliki simbol dan makna tersendiri dalam tradisi kenduri.

Tradisi kenduri dilaksanakan ketika adanya perayaan atau peristiwa sesuatu yaitu kenduri suronan, kenduri munggahan (kenduri yang ditujukan sebagai doa untuk ahli kubur dari keluarga yang menggelar kenduri tersebut, ada macamnya yakni: kenduri ke 3 atau kenduri telongdinanan, kenduri ke 7 atau kenduri pitungdinanan, ke 40 atau kenduri patangpuluhan), ke 100 dan ke 1000 hari wafatnya seseorang), kenduri bakdan, kendur syukuran dll.

Dalam perkembangannya ada di sebagian daerah yang kenduri dilakukan dengan mentahan sebutan yang dilakukan saat kenduri tidak menggunakan nasi lagi saat dibawa pulang tetapi ada yang memberikan seperti sembako, roti, atau makanan lain. Tetapi tetap ada makanan yang sebagai syarat saat kenduri atau saat dilakukan doa, walaupun dalam jumlah ya tidak terlalu besar atau banyak, karena hanya buat syarat saja atau simbol saja. Misalnya jenang merah dan jenang putih, tidak bisa jika hanya salah satu saja misal hanya jenang merah saja karena itu sudah pasangannya dari informai yang didapat bahwa jenang merah itu simbol dari perempuan dan jenang putih itu simbol dari laki-laki.

Dari tradisi kenduri tersebut merupakan kegiatan berupa syukuran dan doa bersama. Menurut saya kegiatan ini tidak sepenuhnya tidak sepenuhnya salah dengan kegiatan ini masyarakat bisa saling bersilahturahmi. Yang menyelenggarakan kegiatan ini mendapatkan kebaikan karena bersedekah untuk masyarakat sekitanya. Dan dalam perkembangannya terdapat kegiatan yang menyesuaikan dengan keadaan masyarakat misalnya tidak dengan nasi tetapi dengan makanan lain. Walaupun masih ada simbol-simbol atau syarat dari kenduri yang harus ada dan tetap dijaga oleh masyarakat itu

Smk Tunas Bangsa Tawangsari, 09032022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETOS KERJA DALAM ISLAM

Tips Puasa Berjalan Lancar

Pentingnya Hormat dan Patuh kepada Orang Tua